Akhirnya

Setelah bingung selama hampir 1 minggu berjuang…, berjuang mikir, setelah punya blog terus diisi apa?
Biasanya ada aja ide buat nulis, tapi setelah ada tempat buat menulis malah ga ada keinginan atau mikir gitu mau menulis apa.
Persis sama kelakuan gue sehari-hari yang otaknya nungging, yang akalnya jomplang, pingin punya ini pengen punya itu.., setelah punya boro-boro dipake, boro-boro dipiara, boro-boro itu, boro-boro ini,.
Kalo udah kepingin sesuatu nih, tenaga gue buat mendapatkannya berlipat – lipat sejuta kali, kilah gue segudang, alasan gue selapangan. Argumentasi gue sepanjang anyer panarukan. Padahal sih ga perlu- perlu amat atau bahkan sama sekali ga perlu. Herannya  puluhan kali berhadapan sama situasi kayak gini gue memilih untuk tunduk sama kemauan gue sendiri. Bukan karena perlu, tapi karena mau aja.
Nah setelah maunya diraih, seperti biasa sehari dua hari gue akan pake, eksploitasi habis-habisan sambil ga lupa gue bagi-bagi di sosmed. Menyenangkan ? Ya siiiih.
Maksimal 1 minggu seperti biasa, gue cukup puas dan sombong dengan hanya bilang gue punya ini, gue punya itu. Diurusin, dirawat…? Hmmmm biasanya sih nggak…, paling banter sekali-kali. (Sepeda, motor, speaker, gitar, baju, helm, gadget,dll, dll).
Udah gue bilang di awal, rasanya udah cukup dan tenang kalo gue bisa bilang ini punya gue, itu punya gue bukan atas kebutuhan dan keperluan yang primer.
Setelah sekian lama begini, ada satu pertanyaan yang  gantung. Ini gue begini bener atau nggak? Normal? Atau Pantes ?
Kalo balik ke diri gue sendiri nih, gue ini bukan type orang yang harus begino begini…, ya udah yang cukup-cukup aja kali ya. Cukup banyak, cukup mahal, cukup berkelas. Hahaha
Banyak sih yang mau gue tumpahin di sini, tapi semakin banyak yang absurd, nanti malah ga enak dibaca, makin ga ketahuan gue ini sebenernya ngomong apaan.
Sebenernya dari banyak paragraf diatas, gue cuma mau ngaku kalo gue adalah contoh nyata dari orang yang ga tau bersyukur, bertindak atasnama nafsu belaka. Asosial dan ga sensitif.
Absurd dan disorientasi.
Materi memang memberi kenikmatan, rasa puas, rasa percaya diri, rasa angkuh, rasa ingin diistemawakan, didengarkan, dianggap paling ini itu, juga rasa sombong ( bisa banyak bisa dikit…., yang sedikit biasanya ga berasa kalo sombong, yang sombong banyak biasanya ngerasanya sombong dikit, itu pun sombong untuk alasan yang entah apa alasannya.., untuk motivasi lah.., untuk memecut semangatlah , terserah elu dah!).
Tapi sejatinya mewah itu ga mesti barang mahal sih. Kadang indomie di waktu malam dengan perut rockeran, itu mewah jubilee sekali. Kopi yang dibikinin dengan cinta, gorengan yang disajikan dengan kasih juga sebuah kemewahan yang paripurna. Jadi dalam kesederhanaan itu ada kemewahan. Dan kemewahan sejati itu sebenernya kesederhanaan itu.
Tapi ga sesederhana itu juga…
Kapasitas mensyukuri, kapasitas memelihara, kapasitas menikmati apa yang sudah Tuhan berikanlah  yang menjadi “kacamata kesejatian kita” untuk melihat bahwa dalam setiap kesederhanaan pun terdapat kemewahan yang tak terkira, lengkap, dan sempurna.

Komentar